Bisa jadi Moms terlanjur letih dan masih merasa fisiknya kurang prima. Jika sudah bisa berhubungan seks, Dads dapat gunakan posisi seks yang tidak memberikan banyak tekanan pada tubuh Moms. Hati-hati dengan kondisi rahim yang masih sensitif dengan goncangan atau kondisi jahitan di perut Moms. Hati-hati pula ketika menyentuh payudara. Sebagaimana kondisi seks saat awal pernikahan, lakukan eksplorasi titik-titik foreplay terbaik yang disukai Moms.

Sumber: Pexels.com
Supaya tidak ‘garing’, berikut ini adalah beberapa cara agar Moms dan Dads tetap intim setelah punya anak. Pertama, usahakan untuk melakukan kontak fisik tanda sayang sebanyak mungkin. Berikan Moms ciuman mesra minimal ketika bangun tidur, saat Dads akan berangkat kerja, saat Dads pulang kerja, dan ketika akan tidur. Peluklah ia sering-sering, terutama ketika tidur (tentu saja cari posisi yang nyaman ya, Dads!).
Kedua, Dads bisa memuji Moms, membelikannya hadiah-hadiah kecil seperti makanan kesukaan yang kadang tidak terpikir untuk membelinya karena Moms ‘terpaku’ pada sang buah hati, atau mengajaknya jalan-jalan. Ingat selalu hal-hal favorit Moms dan berikan kejutan sesekali. Atau selalu bantu Moms dalam menjaga si kecil. Mengganti popok bayi, menyuapi bayi, menidurkan bayi, adalah bentuk kegiatan kecil yang membuat Moms jatuh cinta lagi. Hal ini membuat Moms percaya pada Dads bahwa Dads masih mencintai dan memperhatikannya.
Kebanyakan perempuan takut tidak dianggap menarik lagi setelah melahirkan. Ketiga, ungkapkan rasa syukur Dads memiliki Moms kepada Tuhan. Berterima kasih kepada-Nya karena Ia telah menitipkan perempuan hebat ini kepada Dads. Dads bisa mengungkapkan rasa syukur ini juga kepada Moms melalui ucapan, puisi, atau lagu yang Dads buat. Tidak ada yang lebih romantis daripada romantis yang relijius, bukan?
Yuk, share pengalaman Dads dalam menghadapi perbedaan seks setelah melahirkan! Selain itu, jika kehidupan rumah tangga Dads tetap intim setelah Moms melahirkan, ditunggu juga ceritanya di kolom komentar! Sharing is caring!